Ragom.id – Nama OnePlus pernah menjadi primadona di kalangan pecinta teknologi berkat julukan “flagship killer”. Namun di Indonesia, keberadaan merek ini justru seperti “barang langka” karena sudah lama tidak hadir secara resmi di pasaran.
Padahal, OnePlus sempat mencicipi pasar Indonesia pada 2015 melalui peluncuran OnePlus One yang dijual eksklusif secara online. Saat itu, produk tersebut mendapat sambutan positif karena menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga kompetitif. Namun, kehadiran tersebut tidak bertahan lama.
Sejak 2016, OnePlus memutuskan hengkang dari Indonesia. Salah satu faktor utama adalah regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang mewajibkan vendor memiliki kandungan lokal tertentu untuk perangkat 4G. Bagi OnePlus, membangun fasilitas produksi atau memenuhi persyaratan tersebut dinilai tidak sebanding dengan potensi pasar yang mereka miliki saat itu.
Di sisi lain, OnePlus berada dalam satu grup dengan Oppo dan Vivo di bawah naungan BBK Electronics. Kedua merek tersebut justru berkembang pesat di Indonesia dengan dukungan pabrik lokal dan jaringan distribusi yang kuat. Kondisi ini membuat kehadiran OnePlus berpotensi berbenturan secara pasar, khususnya di segmen premium.
Ketiadaan jalur resmi membuat penggemar OnePlus di Indonesia selama ini mengandalkan pembelian dari luar negeri atau pasar tidak resmi. Namun, kebijakan pemblokiran IMEI yang semakin ketat membuat biaya impor menjadi tinggi karena harus membayar pajak tambahan agar perangkat bisa digunakan.
Meski begitu, rumor kembalinya OnePlus ke Indonesia terus bermunculan setiap tahun. Beberapa indikasi seperti munculnya sertifikasi perangkat sempat memunculkan harapan, namun hingga kini belum ada realisasi peluncuran resmi ke publik.
Dengan kombinasi regulasi yang ketat dan pertimbangan bisnis, OnePlus tampaknya masih menahan diri untuk kembali ke pasar Indonesia, meski minat dari para penggemarnya tetap tinggi.





