Ragom.id – Perayaan Hari Raya Pentakosta kerap diwarnai dengan berbagai tradisi syukur di berbagai penjuru nusantara. Di lingkungan jemaat Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) Immanuel Pasir Luhur, turunnya Roh Kudus ini dirayakan melalui sebuah tradisi unik dan sarat makna kebersamaan yang dikenal dengan sebutan persembahan “Unduh-Unduh”.
Tradisi Unduh-Unduh merupakan bentuk ibadah syukur panen yang memadukan nilai spiritualitas Kristen dengan kearifan lokal budaya agraris. Dalam perayaan ini, jemaat tidak hanya membawa persembahan berupa uang, melainkan membawa langsung hasil bumi dari ladang dan pekarangan mereka.
Menariknya, salah satu komoditas utama yang kerap mewarnai altar gereja dalam persembahan ini adalah berbagai macam hasil pertanian dan rempah-rempah dapur. Pemandangan altar yang dipenuhi dengan aneka ragam hasil panen ini menjadi simbol rasa syukur jemaat atas pemeliharaan Tuhan dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Lelang Penuh Suka Cita untuk Pengembangan Gereja
Rangkaian acara tidak berhenti pada prosesi penyerahan persembahan di altar. Puncak kemeriahan tradisi Unduh-Unduh justru terjadi seusai ibadah, yakni melalui sesi pelelangan hasil bumi.
Seluruh hasil pertanian dan hasil panen yang telah didoakan dan dipersembahkan tadi akan dilelang kembali kepada seluruh jemaat yang hadir. Proses lelang ini berlangsung hangat, penuh tawa, dan diwarnai semangat kekeluargaan. Jemaat berlomba-lomba memberikan penawaran terbaik mereka untuk membawa pulang hasil bumi tersebut.
Bukan tanpa tujuan, tradisi pelelangan ini memiliki misi mulia di baliknya. Seluruh uang tunai yang terkumpul dari hasil lelang akan dikelola sepenuhnya oleh majelis gereja. Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk program pengembangan dan pembangunan fisik gedung gereja, serta mendukung berbagai kegiatan pelayanan jemaat ke depannya.
Melalui tradisi Unduh-Unduh, perayaan Pentakosta di GKSBS tidak sekadar menjadi ritual keagamaan semata, melainkan wujud nyata dari semangat gotong royong, pemberdayaan ekonomi umat, dan kemandirian gereja yang mengakar kuat pada budaya lokal.






