Ragom.id – Peringatan Hari Kartini Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Kota Bandar Lampung.
Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, menegaskan bahwa semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tetap relevan hingga saat ini. “Semangat Kartini tidak hanya relevan pada masanya, tetapi terus hidup dan memberi inspirasi bagi perempuan Indonesia hingga hari ini,” ujar Eva Dwiana.
Ia menambahkan, pemikiran Kartini menempatkan pendidikan sebagai kunci utama dalam membangun masa depan perempuan. “Tanpa akses terhadap pendidikan, yang sesungguhnya terhambat adalah masa depan bangsa,” lanjutnya.
Namun demikian, Eva mengakui tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender masih dihadapi. Data tahun 2024 menunjukkan Indeks Pembangunan Gender (IPG) berada di angka 91,85, sementara Indeks Ketimpangan Gender (IKG) tercatat 0,421.
Di sisi lain, partisipasi perempuan dalam jabatan manajerial secara nasional baru mencapai sekitar 35,02 persen, sedangkan keterwakilan di parlemen berada di kisaran 22,48 persen. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan juga masih lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Selain itu, tantangan di bidang kesehatan dan sosial juga masih ditemukan, seperti persalinan di luar fasilitas kesehatan serta angka kelahiran usia dini. Kesenjangan antarwilayah juga masih terjadi dengan sejumlah daerah berada pada kategori IPG rendah.
Pemerintah Kota Bandar Lampung, kata Eva, terus berupaya memperkuat pemberdayaan perempuan melalui berbagai program. “Perempuan harus menjadi bagian penting dalam pembangunan, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai subjek yang berdaya,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendorong kesetaraan gender. “Semangat Kartini hari ini bukan hanya tentang membuka akses, tetapi memastikan perempuan memiliki pilihan, suara, dan kendali atas hidupnya,” ujarnya.
Melalui momentum ini, masyarakat diajak memastikan perempuan mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, akses pendidikan tanpa hambatan, serta ruang yang lebih luas untuk berpartisipasi.
“Ketika perempuan berdaya, maka keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan bangsa menjadi lebih adil,”tutup Eva Dwiana.






