Ragom.id – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 46 kejadian kebakaran terjadi sepanjang Januari hingga April 2026. Total taksiran kerugian akibat peristiwa tersebut mencapai Rp397,5 juta, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada April.
Pada Januari 2026, tercatat 10 kejadian kebakaran dengan total kerugian Rp35,2 juta. Objek yang terbakar didominasi bangunan penduduk sebanyak empat unit dan bangunan umum dua unit. Penyebab utama kebakaran berasal dari korsleting listrik sebanyak tujuh kasus.
Jumlah kejadian meningkat pada Februari 2026 menjadi 12 kasus dengan kerugian Rp86,1 juta. Kebakaran banyak terjadi pada kategori lain-lain, sementara penyebab masih didominasi gangguan listrik sebanyak tujuh kasus, serta faktor lainnya lima kejadian.
Memasuki Maret 2026, kejadian kembali naik menjadi 14 kasus, namun nilai kerugian menurun menjadi Rp28,2 juta. Kebakaran didominasi lahan atau kategori lain-lain sebanyak delapan kejadian, dengan penyebab utama tetap listrik sebanyak delapan kasus, disusul sampah dan faktor lainnya.
Sementara itu pada April 2026, jumlah kejadian tercatat 10 kasus, namun kerugian melonjak signifikan hingga Rp248 juta. Kebakaran melibatkan berbagai objek, mulai dari bangunan penduduk, bangunan umum, bangunan industri, hingga kendaraan. Penyebab utama kembali didominasi korsleting listrik sebanyak delapan kasus, serta kompor dua kejadian.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandar Lampung, Anthoni Irawan, mengatakan korsleting listrik masih menjadi penyebab paling dominan dalam kasus kebakaran di wilayahnya. “Kami mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap instalasi listrik di rumah maupun lingkungan sekitar, karena ini masih menjadi pemicu utama kebakaran,” ujarnya.
Ia juga menambahkan pentingnya langkah pencegahan sederhana seperti rutin memeriksa jaringan listrik dan tidak membakar sampah sembarangan. Menurutnya, upaya pencegahan menjadi kunci untuk menekan angka kejadian kebakaran di Kota Bandar Lampung.












