Ragom.id – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Biosolar mulai dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kota Bandar Lampung dan ruas jalan lintas.
Antrean tersebut didominasi truk berukuran besar yang menunggu giliran mengisi BBM. Panjangnya antrean membuat sebagian kendaraan menggunakan badan jalan untuk berhenti, sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya.
Warga juga mengeluhkan dampak keberadaan kendaraan berat yang mengantre dalam waktu lama, terutama terhadap sejumlah fasilitas jalan. Beban kendaraan besar yang berhenti dan beraktivitas di sisi jalan dinilai dapat mempercepat kerusakan badan maupun fasilitas pendukung jalan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena terdapat ketentuan mengenai pembatasan operasional kendaraan angkutan barang dan kendaraan berat pada ruas serta waktu tertentu. Aturan tersebut ditujukan untuk menjaga kelancaran lalu lintas dan mengurangi dampak kendaraan berat terhadap kondisi jalan di dalam kota.
Namun, di sejumlah titik, kendaraan berat masih terlihat mengantre di sekitar SPBU. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean truk terjadi di antaranya di SPBU kawasan Tanjung Senang, SPBU Jalan Yos Sudarso, SPBU Jalan Gatot Subroto, serta sejumlah titik di Jalan Lintas.
Panjangnya antrean membuat kendaraan tidak seluruhnya dapat tertampung di area SPBU. Truk kemudian memanjang hingga ke sisi jalan dan sebagian menggunakan badan jalan untuk menunggu giliran pengisian BBM.
Salah seorang pengemudi truk yang ditemui saat mengantre mengaku harus menunggu dalam waktu cukup lama untuk mendapatkan Biosolar. Bahkan, pengemudi menyebut dirinya dapat menginap hingga dua hari di sekitar SPBU.
Menurutnya, kondisi tersebut terpaksa dilakukan karena pengemudi khawatir kesulitan mendapatkan BBM ketika sudah melakukan perjalanan dan berada di daerah tujuan pengiriman.
Lamanya antrean membuat sejumlah kendaraan akhirnya memenuhi area sekitar SPBU hingga meluber ke badan jalan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap kelancaran lalu lintas, tetapi juga menimbulkan keluhan masyarakat yang setiap hari menggunakan ruas jalan tersebut.
Menanggapi fenomena antrean Biosolar, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung Budhi Darmawan mengatakan, dari sisi pasokan, ketersediaan Biosolar di Lampung masih mencukupi.
Berdasarkan data penyaluran hingga 31 Agustus 2026, realisasi Biosolar telah mencapai 569.332 kiloliter. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kuota year to date atau YTD yang seharusnya tersalurkan hingga periode tersebut, yakni 526.585 kiloliter.
Dengan demikian, realisasi penyaluran Biosolar hingga akhir Agustus telah mencapai sekitar 108 persen dari kuota YTD.
Budhi menduga, panjangnya antrean bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan pasokan Biosolar. Salah satu faktor yang menurutnya dapat memengaruhi adalah adanya selisih harga yang cukup besar antara Biosolar bersubsidi dengan BBM nonsubsidi untuk kendaraan bermesin diesel.
Selisih harga tersebut disebut dapat mencapai sekitar Rp19 ribu, sehingga membuat permintaan terhadap BBM bersubsidi tetap tinggi di kalangan pengguna kendaraan diesel.
Fenomena ini menunjukkan persoalan antrean Biosolar tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga dengan tingginya kebutuhan kendaraan angkutan barang serta aktivitas kendaraan berat di dalam kota dan sepanjang jalur lintas.
Masyarakat berharap persoalan tersebut dapat ditangani secara terpadu, mulai dari pengaturan antrean di SPBU, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi, hingga penegakan ketentuan mengenai operasional kendaraan berat.
Penanganan diperlukan agar kebutuhan BBM bagi sektor angkutan tetap terpenuhi, namun pada saat yang sama antrean kendaraan besar tidak kembali menutup badan jalan, mengganggu lalu lintas, maupun menambah kerusakan fasilitas jalan.












