Ragom.id – DPRD Kota Bandar Lampung mulai mengevaluasi proyek pengadaan gerobak motor listrik senilai miliaran rupiah setelah muncul sejumlah persoalan di lapangan, mulai dari ketidaktepatan sasaran hingga dugaan ketimpangan harga.
Evaluasi ini mencuat seiring keluhan penerima manfaat yang mengaku mengalami kendala teknis saat menggunakan gerobak listrik untuk aktivitas usaha sehari-hari.
Beberapa masalah yang dilaporkan antara lain keterbatasan daya listrik rumah 450 VA saat pengisian baterai, kerusakan sistem setir, hingga performa mesin yang dinilai tidak kuat saat melintasi jalan menanjak.
Tak hanya itu, penerima bantuan juga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk memodifikasi gerobak agar sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.
Dari sisi anggaran, proyek ini menjadi sorotan setelah diketahui Pemkot Bandar Lampung mengalokasikan Rp2,8 miliar untuk 100 unit pada 2025, atau sekitar Rp28 juta per unit.
Sementara itu, harga pasar untuk spesifikasi serupa dengan motor 800 watt dan kapasitas angkut 400 kilogram berkisar di angka Rp8,7 juta per unit, memunculkan dugaan selisih harga yang signifikan.
Ketua Komisi II DPRD Kota Bandar Lampung, Agusman Arief, menyatakan pihaknya akan memanggil Dinas Koperasi dan UKM guna meminta penjelasan secara terbuka. “Kami akan fokus pada efektivitas program, jumlah unit, serta ketepatan sasaran penerima dalam RDP,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Selain anggaran, DPRD juga menyoroti pentingnya validasi data penerima bantuan, termasuk kesiapan infrastruktur listrik di rumah tangga agar program tidak justru menimbulkan beban baru bagi masyarakat.
Agusman menegaskan kebutuhan integrasi kebijakan dengan pengembangan kendaraan listrik di tingkat provinsi, termasuk penyediaan SPKLU agar program ini berkelanjutan. “Tanpa infrastruktur pendukung, program ini sulit berjalan optimal di lapangan,” tegasnya.









