Ragom.id – Program pengadaan gerobak motor listrik untuk pelaku UMKM di Kota Bandar Lampung kembali menjadi sorotan setelah pemerintah kota mengalokasikan anggaran Rp2,9 miliar pada tahun 2026.
Minimnya rincian dalam dokumen anggaran terkait jumlah unit dan spesifikasi teknis memunculkan pertanyaan publik mengenai transparansi serta efektivitas program tersebut.
Sorotan ini menguat karena pada tahun sebelumnya, Pemkot Bandar Lampung menggelontorkan Rp2,8 miliar untuk 100 unit gerobak listrik, atau setara Rp28 juta per unit.
Angka tersebut dinilai janggal setelah dibandingkan dengan harga pasar untuk spesifikasi serupa yang berkisar Rp8,7 juta per unit, memunculkan dugaan ketimpangan anggaran.
Selain persoalan harga, keluhan juga datang dari penerima bantuan yang menilai performa gerobak listrik belum optimal untuk menunjang aktivitas usaha.
Salah satu penerima menyebut kendaraan tidak cukup kuat melintasi jalan menanjak meski baterai dalam kondisi penuh. “Kalau lewat tanjakan seperti flyover, tenaganya tidak cukup,” ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan tambahan beban usaha seperti etalase dan perlengkapan dagang yang membuat kinerja motor listrik semakin berat.
Di sisi lain, keterbatasan daya listrik rumah tangga juga menjadi kendala baru. Proses pengisian daya yang memakan waktu hingga enam jam dinilai membebani penggunaan listrik harian.
“Kalau ngecas harus gantian sama masak, karena listrik rumah hanya 450 VA,” kata penerima bantuan tersebut.
Masalah lanjutan juga muncul dari usia pakai baterai yang relatif singkat, berkisar 1,5 hingga 2 tahun, sehingga berpotensi menambah beban biaya perawatan bagi pelaku UMKM.
Hingga kini, Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung belum memberikan keterangan resmi terkait evaluasi maupun perencanaan lanjutan program tersebut.









