Ragom.id – Kisah Leicester City dalam satu dekade terakhir menjadi potret kontras dalam sepak bola modern. Dari klub yang menciptakan keajaiban dengan menjuarai Liga Inggris musim 2015/2016, kini The Foxes justru terjerembab hingga kasta ketiga, League One, pada musim 2025/2026.
Pasca kesuksesan bersejarah tersebut, Leicester sempat mempertahankan stabilitas sebagai kekuatan baru di luar “Big Six”. Mereka dikenal memiliki model bisnis yang efisien dengan menjual pemain bintang seperti N’Golo Kante, Riyad Mahrez, hingga Harry Maguire, lalu menggantinya dengan talenta muda potensial. Puncaknya terjadi pada 2021 saat mereka meraih trofi FA Cup di bawah asuhan Brendan Rodgers.
Namun, fondasi klub mulai retak dalam beberapa musim berikutnya. Kebijakan transfer yang tidak tepat sasaran membuat Leicester mengeluarkan dana besar untuk pemain yang minim kontribusi. Di saat yang sama, beban gaji meningkat drastis, sementara pendapatan klub menurun akibat gagal tampil di kompetisi Eropa.
Kondisi ini diperparah dengan hilangnya figur penting di ruang ganti, termasuk kiper sekaligus kapten Kasper Schmeichel. Leicester kehilangan identitas dan mentalitas juara yang sebelumnya menjadi kekuatan utama mereka.
Puncak krisis terjadi pada musim 2024/2025 ketika Leicester terdegradasi dari Premier League ke Championship. Terjerat aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR), klub kesulitan melakukan pembenahan skuad, yang berujung pada performa buruk sepanjang musim.
Alih-alih bangkit, Leicester justru mengalami kemunduran lebih dalam pada musim berikutnya. Sanksi pengurangan poin akibat masalah finansial semakin memperburuk situasi. Ketidakstabilan di kursi pelatih serta kepergian ikon klub Jamie Vardy membuat tim kehilangan arah dan kepercayaan diri.
Hasilnya, Leicester kembali terdegradasi, kali ini ke League One. Kejatuhan ini menjadi salah satu yang paling dramatis dalam sejarah sepak bola Inggris.
Kini, Leicester City menghadapi tantangan besar untuk membangun ulang klub dari titik terendah. Tanpa perbaikan manajemen dan stabilitas finansial, masa depan mereka berpotensi semakin suram, sekaligus menjadi pengingat bahwa kejayaan di masa lalu tidak menjamin keberlanjutan di era sepak bola modern.












