Ragom.id – Suara pelan anak-anak sekolah terdengar bersamaan dengan langkah hati-hati mereka saat meniti rangka besi jembatan yang tersisa.
Dengan tas di punggung dan seragam yang masih rapi, mereka berjalan perlahan melintasi jalur sempit di atas aliran Sungai Way Pengubuan.
Pemandangan memprihatinkan itu terjadi di Kampung Tanjung Ratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Kabupaten Lampung Tengah.
Sejak jembatan penghubung utama di wilayah tersebut putus, warga terpaksa menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa cemas dan penuh risiko.
Kekecewaan warga yang terus menumpuk akhirnya memicu aksi protes. Puluhan warga, mulai dari ibu rumah tangga, pelajar hingga tokoh masyarakat, turun ke jalan menuntut pemerintah segera memperbaiki jembatan yang rusak.
Mereka membawa poster berisi tuntutan dan harapan agar akses utama masyarakat dapat kembali normal secepatnya.
Bagi warga setempat, jembatan itu bukan sekadar bangunan penghubung. Jembatan sepanjang lebih dari 50 meter tersebut menjadi akses utama menuju sekolah, tempat kerja, serta jalur aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari.
Namun kini, yang tersisa hanya rangka besi dan tali baja yang masih nekat digunakan warga untuk menyeberang sungai.
Sebagian warga memilih tetap melintas karena tidak memiliki pilihan lain. Jika menggunakan jalur alternatif, mereka harus memutar hingga puluhan kilometer untuk mencapai wilayah seberang.
Sopian, salah seorang warga, mengaku kondisi tersebut sangat membahayakan, terutama bagi anak-anak sekolah yang setiap hari harus melintasi jembatan rusak.
“Kami sebenarnya takut, apalagi anak-anak sekolah lewat setiap hari. Tapi kalau tidak lewat sini, harus memutar sangat jauh,” ujar Sopian.
Di tengah aksi protes yang berlangsung, sejumlah pelajar masih terlihat melintasi jembatan dengan langkah perlahan sambil berpegangan pada sisi rangka besi.
Warga yang berada di lokasi hanya bisa membantu mengawasi agar mereka tidak terjatuh ke sungai.
Warga lainnya, Ermalina, berharap pemerintah segera turun tangan sebelum terjadi korban jiwa.
“Kami hanya ingin jembatan ini segera diperbaiki supaya warga aman dan anak-anak bisa sekolah dengan tenang,” kata Ermalina.
Bagi masyarakat Kampung Tanjung Ratu Ilir, harapan mereka sederhana: memiliki kembali akses yang aman untuk menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus mempertaruhkan nyawa setiap kali menyeberangi sungai.










